Jurnal Transparansi l Medan – Fenomena papan bunga yang bertebaran di kantor Dinas Perhubungan Kota Medan di Jalan Pinang Baris menuai tanda tanya publik. Kehadiran karangan bunga tersebut dinilai tidak sekadar simbol ucapan selamat atau apresiasi, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk sindiran halus terhadap kinerja pengelolaan parkir di Kota Medan.
Pasalnya, apresiasi yang ditampilkan melalui papan bunga itu dinilai berbanding terbalik dengan kondisi nyata di lapangan. Hingga kini, persoalan parkir semrawut masih menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan secara tuntas.
Beberapa titik bahkan menjadi contoh nyata lemahnya penataan. Di kawasan Sekolah Sutomo Medan, parkiran mobil kerap terlihat hingga dua lapis dan memakan badan jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas. Kondisi serupa juga terjadi di sekitar Kampus Global Prima Medan yang hampir setiap hari memicu kemacetan akibat parkir liar.
Tak hanya itu, di depan Direktorat Jenderal Pajak kawasan Jalan Suka Mulia, pengendara sepeda motor bahkan dikenakan tarif parkir hingga Rp3.000. Praktik ini dinilai menunjukkan lemahnya pengawasan serta potensi adanya pungutan yang tidak sesuai aturan.
Ketua Forum Pemerhati Aparatur Negara, Reza Nasution, menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius. Ia menilai penindakan yang selama ini dilakukan oleh Dishub masih terkesan seremonial dan belum menyentuh akar persoalan.
“Masih banyak pekerjaan rumah bagi Dishub Kota Medan, khususnya dalam pengelolaan parkir. Jangan sampai penindakan hanya sebatas pencitraan dan konten semata tanpa dampak nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan parkir bukan sekadar rutinitas, melainkan menyangkut ketertiban kota dan kenyamanan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah tegas, konsisten, serta pengawasan berkelanjutan agar persoalan parkir liar tidak terus berulang.
Fenomena papan bunga ini pun kini menjadi refleksi publik—apakah benar sebagai bentuk apresiasi atas kinerja, atau justru sindiran terhadap kondisi yang belum kunjung membaik.








