Medan Johor Banjir, Lancar Proyeknya, Banjir Kotanya, Bertambah Harta Pejabatnya

Jurnal Transparansi l Medan – Banjir kotanya lancar proyeknya bertambah harta pejabatnya adalah plesetan atau sindiran populer yang mengkritik paradoks pembangunan, di mana sebuah proyek infrastruktur (seperti jalan, rel, atau normalisasi) terus dikebut dan berjalan, namun di sisi lain justru menyebabkan atau memperparah masalah banjir di area sekitarnya akibat buruknya tata kelola saluran air.

Plesetan ini sering dipakai oleh warga untuk menyoroti masalah-masalah berikut:

Penggusuran Air Alami: Pembangunan fondasi atau turap proyek kerap mempersempit daerah aliran sungai (DAS) atau menutup saluran air warga.

Buruknya Drainase: Proyek besar tidak dibarengi dengan sistem pembuangan air sementara yang memadai, sehingga air hujan menggenang dan membanjiri permukiman.

Kritik masyarakat terhadap pemerintah yang dinilai lebih fokus mengejar target penyelesaian konstruksi fisik daripada dampak lingkungan dan kenyamanan warga setempat.

Amatan awak media telah terjadi banjir di

Tampak belasan motor mogok karena menerobos banjir di Jalan Karya Jaya Medan Johor, Kamis (25/6/2026)

Berdasarkan Informasi yang di himpun awak media, Buruknya tata kelola air memicu banjir karena air hujan tidak dapat terserap ke dalam tanah atau mengalir dengan lancar ke saluran pembuangan. Hal ini mengakibatkan penumpukan volume air berlebih yang akhirnya meluap dan menggenangi permukiman.

Berikut adalah berbagai dampak dan akibat spesifik dari tata kelola air yang buruk:

Sistem Drainase Tersumbat: Penumpukan sampah, lumpur, dan sedimen di saluran air atau selokan menghambat laju aliran, sehingga air dengan cepat meluap ke jalan dan permukiman.

Berkurangnya Area Resapan Air: Alih fungsi lahan, seperti betonisasi dan pengaspalan masif, menutup pori-pori tanah. Air hujan tidak dapat meresap secara alami dan berubah menjadi limpasan (run off) yang membebani sistem drainase.

Kapasitas Sungai Menurun: Pembangunan permukiman di bantaran sungai mempersempit palung sungai. Selain itu, erosi dan sedimentasi yang tidak terkontrol mendangkalkan sungai, sehingga daya tampungnya berkurang drastis.

Alih Fungsi Kawasan Hijau: Perusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan hilangnya vegetasi penahan air mengurangi daya dukung lingkungan dalam menahan air hujan.

Banjir Menggenang Lebih Lama: Pembuatan saluran yang tidak terintegrasi dengan baik (tanpa pembuangan akhir yang jelas) menyebabkan air menggenang dalam waktu lama dan memicu genangan berulang saat intensitas hujan tinggi.